Hijaber ko pacaran??
Alhamdulillah, sekarang marak kaum hawa berhijab yang tentu saja dengan niat dan tujuan masing-masing. Mulai dari yang muda sampai yang tua, dari yang kaya sampai yang papa, dari selebritis sampai penjual rujak petis, hehee...ya, itu itu sebuah prestasi tersendiri yang patut diacungi jempol. Namun sayang sejuta sayang, tanpa bermaksud mereehkan niat baik mereka yang sudah berhijab, tapi prestasi itu jadi blunder buat islam. Loh koq?? Iya, semangat kaum hawa untuk menutup aurat itu, nggak dibarengi dengan niat yang murni dan tsaqofah yang mumpuni tentang jilbab.
Maaf ini bukan tuduhan, tapi ini bukti bahwa kaum muslimah yang berhijab lebih banyak mengarah ngikuti trend daripada sebuah kewajiban. “ ah jangan su’udzon donk.” Enggak, kita nggak su’udzon, tapi coba mari kita sama-sama belajar bersama apa makna jilbab yang sesungguhnya dan perilaku wanita muslimah seharusnya. Serta satu hal juga yang saya anggapcukup serius kudu dibahas disini, mengenai perilaku hijaber yang masih pacaran. Yuuk mari kita mulai...
Sadarin hijaber
Sekarang ini lagi ngetrand apa yang disebut dengan hijab. Tapi sayang, islam sendiri sudah punya sebutan untuk pakaian wanita ketika keluar rumah yang disebut ‘ hijab’ dan ‘khimar (kerudung)’. Sementara makna ‘hijab’ itu sendiri dalam bahasa arab artinya ‘penutup’. Makna ‘hijab’ atau ‘penutup’ itu salah satunya bisa diambil dalam QS. Al Ahzab 53 : “ Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka.”
Kata hijab yang lain dalam Al Qur’an pada surat Al A’raaf ayat 46, Al Israa’ ayat 45, Maryam ayat 17, Al Ahzab ayat 53, Shaad ayat 32, Fushshilat ayat 5, Asysyuura ayat 51 dan Al Muthaffifiin ayat 15. Semuanya memiliki makna tabir atau suatu penghalang sehingga tidak bisa tampak oleh penglihatan. Artinya semua bermakna konkret sebagai tabir, kecuali di Surat 38 ayat 23 dan Surat 41 ayat 5, yang bersifat kiasan.
Kalau yang dimaksud hijab oleh para pemrakarsa dan pemakai hijab adalah pakaian wanita muslimah diluar rumah, maka itu adalah jilbab dan kerudung. Tapi perlu dipahami bahwa tidak semua hijab adalah jilbab. Atau dengan bahasa lain, tidak semua penutup itu adalah jilbab. Seorang wanita muslimah, bisa saja menutupi dirinya pake daun atau tanah, tapi tentu saja itu bukan jilbab. Atau bahkan menutupinya dengan kain, tapi tidak sesuai syarat-syarat sebagai pakaian wanita muslimah diluar rumah, maka itu pun tidak disebut jilbab.
Nah, makanya disini penting banget nyadarin para hijaber. Karena berangkat dari pemahaman yang keliru tentang hijab, yang hanya dimaknai penutup (tubuh), maka akhirnya wanita muslimah, seenaknya aja menutupi tubuhnya. Bahkan bisa dibilang akibat salah pikir tentang hijab, maka hijab lebih diarahkan ke fashionable, trend mode.
Berikut ini coba kita kupas beberapa hal yang disangkanya sudah berjilbab padahal hanya hijab (penutup) tubuh aja yang dipakai :
- Kerudung punuk unta
Ini juga yang lagi trend di kalangan remaja dan ibu-ibu. Mungkin karena rambutnya panjang, lalu diikat dan disanggul, baru ditutupin kerudung sehingga mirip punuk unta di bagian belakang. Padahal secara khusus, Rasulullah saw sudah mengingatkan nggak boleh berpakaian seperti itu. “ ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat : [1] suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak lenggok, kepala mereka seperti punuk onta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian. “ (HR. Muslim).
Peringatan dari Rasulullah saw diatas harusnya dicamkan kaum hawa yang berkerudung punuk onta. Sebab dengan berpunuk onta ria, yang ada bukan menjalankan perintah tapi malahan membikin dosa. Maka wahai hijaber, jika yang kau inginkan ketaatan bukan pamer kecantikan, harusnya kau mengindahkan larangan Rasulullah tentang berhijab punuk onta.
- Legging atau kaos ketat
Kekeliruan yang juga masih sering dilakukan kaum hijaber adalah menggunakan legging atau kaos ketat. Kenapa disebut keliru? Karena salah satu syarat pakaian wanita di luar rumah tidak boleh ketat alias harus longgar. Jilbab itu seperti diterangkan dalam surah Al Ahzab 59 yakni baju longgar yang menutupi seluruh tubuh perempuan dari atas sampai bawah.
Nah, sementara legging sudah pasti ketat dan putusan. Bahkan memang legging itu di desain untuk ketat sehingga kalau dipakai seorang muslimah dipadupadankan dengan atasan, entah itu jilbab atau pakaian kaos, jelas itu malah menonjolkan aurat. Maksudnya mau menutup aurat, yang ada malah memamerkan aurat. Kalau memang mau pake legging atau kaos, maka pakaian seperti itu hanya boleh digunakan sebagai pakaian dalam, pakaian luarnya tetap jilbab/ gamis dan kerudung.
- Kebaya (tipis, tembus pandang)
Pakaian kebaya ini biasanya dipakai pas ada hajatan nikahan, utamanya di jawa. Kebaya itu pakaian adat yang disambung-sambungin dengan jilbab. Jadi biar gak ketinggalan adat sekaligus mode dan penginnya menutup aurat, maka kebaya yang ketat itu, ditambahin kerudung. Harapannya, dengan ditambahin kerudung, biar kelihatan ciri islamnya. Tapi malahan yang begitu itu menunjukkan pamakainya, (maaf) kurang paham islam, terutama soal pakaian wanita diluar rumah. Sebab, ciri kebaya itu tipis, terawang dan juga ketat, persis kayak yang dipakai pengantin wanita. Kalo kebaya dengan cri seperi itu, maka tentu saja nggak memenuhi syarat sebagai pakaian luar seorang muslimah.
- Kerudung selendang
Kayak gimana tuh kerudung selendang? Ini sebenernya bukan trend tapi kayaknya sudah kebiasaan. Kerudung jenis ini biasanya dipakai hanya untuk formalitas aja. Jadi kerudung jenis ini lebih pas disebut selendang. Ya, biasanya memang selendang nggak selebar kerudung, sehingga dipakai seadanya aja, dipakai untuk menutupi sebagian rambutnya. Kalo yang kayak begitu jelas tidak memenuhi syarat sebagai kerudung (khimar) sebagaimana dijelaskan dalam QS. An-Nur 31. /Apalagi kalo dengan kerudung yang kayak gitu, trus bawahan atau pakaiannya ketat atau malah setengah badan, peuh, itu mah parah pisan euy.
- Kerpus keong (apa sih namanya?)
Model apalagi ini kerpus keong? Bisa dibilang kalau model ini dipakai kaum hawa, kemungkinan pemakainya tidak paham syariat berpakaian wanita muslimah di luar rumah. Kerpus itu semacam topi (daleman) yang dipakai untuk merapikan rambut. Tapi seiring waktu, karena ketidakpahaman tadi, akhirnya kerpus itu dibiarkan begitu saja dipakai tanpa ada kain (kerudung) lagi di atasnya. Parahnya, kalau yang begitu itu sudah dianggap menutup aurat dan memenuhi syarat penutup aurat. Waduh tobat.
- Jilbab lengan pendek.
Pakaian jenis ini juga banyak dikenakan kaum muslimah. Entah karen nggak tau atau memang sengaja mengenakan yang kayak gitu. Biasanya dipakai untuk sekedar formalitas karena aturan perusahaan, tempat dia bekerja. Pakaiannya sih biasa, atasannya sudah bener di tutup pake kerudung tapi bajunya itu lengannya nggak sampe pergelangan tangan, cuman sampe siku aja. Nah, yang begitu jelas nggak bisa disebut sebagai jilbab dan menutup aurat. Karena sebagaimana disampaiakan dalam hadist bahwa aurat wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.
Well, itu beberapa kekeliruan kaum muslimah, hijaber yang sempet terekam dalam benak saya. Mungkin, masih banyak kekeliruan yang lain yang dilakukan kaum muslimah dalam menutup auratnya. Tapi bukan bermaksud mengolok olok muslimah yang sudah berhijab, hanya saja kita punya kewajiban untuk saling nasehat menasehati dalam kebaikan, tul nggak?
Ada mispersepsi bahwa busana muslimah yang penting udah menutup aurat,masalah mode, potongan atau pake celana panjang itu nggak masalah. Dalam masalah pakaian wanita, harus dibedakan pakaian wanita di dalam dan di luar rumah.
Banyak wanita mungkin sudah sadar bahwa aurat mereka harus ditutup. Tapi karena ngikutin mode, akhirnya malah salah kaprah tutup aurat. Ada yang tutup aurat sekedar biar keliatan cantik. Sekedar ngikutin kecantikan, nggak ada niat sama sekali untuk ibadah kepada Allaah.
Ada yang tutup aurat sekedar menutup kepala dan rambut. Ditambah bajunya ketat, lengan pendek, celana legging. Ini menutup aurat yang salah. Ada yang tutup aurat karena tuntutan keadaan atau aturan di sekolah, kantor. Bukan karena kesadaran dan niat. Ini perlu restropeksi niat.
Ada yang tutup aurat karena ngikuti mode yang lagi tren yang dipake para artis. Karena hanya mode, maka boleh buka-tutup seenaknya. Ini salah besar. Ada yang tutup aurat karena alasan manfaat. Untuk menarik penggemar, fan, popularitas, tuntutan skenario. Ini nggak terhitung niat ibadah.
Tren kesadaran menutup aurat ini ditangkap oleh para kapitalis pasar sebagai pasar yang menggiurkan. Lalu terciptalh hijab-hijab fashionable yang seringkali tidak syar’i. Bahkan akhirnya banyak pula para hijaber yang terjerat dalam exploitasi kecantikan.
Seorang wanita yang mengenakan celana panjang atau baju potongan memang telah menutupi aurat. Namun tidak berarti kemudian pakaian itu boleh dipakai di hadapan laki-laki yang bukan mahram, karena dengan pakaian itu ia telah menampakkan keindahan tubuhnya (tabarruj). Tabarruj adalah menampakkan perhiasan dan keindahan tubuh kepada laki-laki asing/ non mahram (izh-haruz ziinah wal mahasin lil ajaanib) (An-Nabhani, 1990 : 104)
Aurat wanita seluruh anggota tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangannya. Lehernya, rambutnya adalah aurat bagi bukan mahram meskipun Cuma selembar rambut. Semua aurat itu wajib ditutupi. “ dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya” (QS. An Nur 31)
Untuk pakaian di luar rumah, maka wanita disamping menggunakan pakaian dalam, dia juga harus mengenakan jilbab dan kerudung. Jilbab disyaratkan harus terjulur sampai kebawah menutup kedua kaki.
Yuuk, benerin niat berjilbabnya ^_^
Ini mungkin perkara sepele dua pele, soal niat. Tapi kalo ternyata niat kita berjilbab salah, maka bisa berakibat berjilbab kita nggak dihitung ibadah oleh Allaah. Bukan su’udzon tapi kalo emang kamu sampe sekarang berjilbab karena Cuma ikut-ikutan or emang nggak paham bahwa sebenernya jilbab itu wajib buat perempuan. Termasuk yang ngerasa udah tahu tentang hukum berjilbab tapi sementara prakteknya nol gede. Maka kayak gitu jangan diterusin deh, coz selain nggak dapet nilai plus dihadapan Allaah SWT, akibat lanjutannya adalah kamu bisa jadi lupa kalo kamu berjilbab. Sehingga aktivitas kamu seenaknya, bahkan cenderung nglanggar hukum syari’at, salah satunya pacaran.
Sebab ini terkait juga dengan pola pandang masyarakat. Masyarakat kita kalo ngeliat cewek berjilbab tapi tingkah lakunya nggak islami, misalnya pacaran. Bergaul bebas dengan lawan jenis, dan sejenisnya, maka masyarakat cenderung mengkaitkan dengan jilbab yang dipakai si cewek tersebut. Akhirnya, masyarakat khususnya kaum perempuan jadi punya dalil begini ‘ itu si anu berjilbab tapi tingkah lakunya nggak karuan. mending nggak berjilbab tapi tingkah lakunya masih sopan. Islami’ begitulah kira-kira yang mereka ucapkan.
Padahal dua hal itu (jilbab dan pacaran) nggak ada kaitan langsung. Sebab berjilbab bagi seorang perempuan yang sudah baligh ketika keluar rumah adalah wajib, sedangkan bertingkah polah sopan bin islami juga merupakan tuntutan yang kudu dilakuin oleh siapa saja, nggak peduli dia berjilbab atau enggak. So, keduanya kewajiban berbeda tapi sama-sama mengandung tuntutan untuk dilakuin oleh kita. Alasan kamu untuk ngejadikan fakta cewek berjilbab tapi tingkah lakunya nggak islami, sebagai dalih kamu nggak berjilbab. Kayaknya udah ketahuan belangnya bahwa itu cuman alasan yang terlalu dicari-cari.
Trus gimana donk? Gini sobat, kita tentu gembira dengan prestasi sebagian dari kamu yang getol mensyiarkan islam, salah satunya dengan jilbab yang kamu pake. Itu sudah kemajuan tersendiri di tengah haru-birunya budaya barat yang meracuni pemikiran dan gaya hidup anak muda seusia kamu. artinya semangat kamu yang menyala-nyala untuk mendakwahkan islam harus didukung dengan tsaqofah islam yang tinggi. Dengan kata lain, jangan cuman semangat doank. Tapi harus ada isi nya supaya nggak diledekin seperti peribahasa tong kosong nyaring bunyinya.
Semangat kamu untuk memakai jilbab, harus didukung pula dengankajian islam yang benar. Pastikan bahwa kamu berjilbab bukan cuman ikut-ikutan atau karena latah mengikuti mode yang berkembang tapi sebagai sebuah kewajiban bagi seorang muslimah.
Ada sedikit krisis nih, mungkin kita belajar dari kisah ini. Rini adalah aktivis pengajian di sekolahnya, dara cantik ini tambah anggun ketika dia memilih pakaian sehari-hari ketika keluar rumah adalah kerudung dan jilbab sesuai tuntutan syariat. Sementara temen Rini namanya Krisda-bukan nama sebenernya—yang satu kelas ama dia. Waktu sanlat ramadhan kemaren juga berusaha pake kerudung, maunya sih tampil islami tapi kok malah ngeledek islam. Maksudnya??? Ya, gimana nggak fren, Krisda emang sih pake kerudung tapi sayang kerudung yang harusnya dibiarkan menutupi dada malah dililitkan di leher, yang orang sering menyebutya kerudung gaul. Itu namanya ngeledek islam sebab menurut syariat islam yang jelasin tentang kerudung (QS. An Nur 31) bahwa kain kerudung itu diulurkan untuk menutupi dada, bukannya diiket ke belakang (nutupi rambut) sehingga lehernya kelihatan.
Analoginya begini. Kalo misalnya ada becak yang beroda tiga, ama mobil yang beroda empat, kemudian kita mengatakan bahwa dua benda itu sama? Jelas nggak sama khan?? Baik dari jenisnya, modelnya, ban nya dll. hampir bisa dipastikan, kalo Krisda adalah kebalikan dari Rini, meski pakaian yang nempel sama yakni jilbab dan kerudung. Jlbab dan kerudung bisa dipake siapa saja. Orang yahudi ataupun nasrani pun bisa aja pake jilbab. Nah, mau nggak sih hanya karena jilbab kamu disamakan dengan mereka. Tuh kan mau nggak?
Aneh memang tapi itulah teman-teman kita. Mereka nggak ngeh ama syariat islam, nggak paham tsaqofah islam. Yang mereka lihat itulah disimpulkan sebagai simbol islam. Dan buat yang pake jilbab sendiri harusnya ngerti, kalo aksesoris jlbab identik dengan orang yang ngerti islam. Bukan berarti untuk pake jilbab harus ngerti dan paham islam dulu tapi paling nggak sebelum memakainya, kudu ngerti donk apa itu jilbab dan kerudung yang bener menurut kriteria syariat islam (QS. Al Ahzab 59 dan An Nur 31).
Waktu udah mantep pake jilbab maka tingkah laku kita, omongan kita dijaga, sebab itu cerminan dari jilbab yang kita pake. Bayangin aja, kalo misal jilbabnya udah ok tapi doi masih suka gaul bebas dengan anak cowok, entar khan bisa berabe? Nanti yang disalahin jilbabnya bukan yang pake jilbab. Jilbab dari dulu ya begitu aja, dia hanya benda nggak disalahin, kalo mau nyalahin ya orang yang memanfaatkan benda itu.
Then, nggak matching donk, kalo ada temen cewek yang ogah pake jilbab beralasan nunggu baek dulu tingkah lakunya atau nggak mau pake jilbab gara-gara tahu yang pake jilbab aja suka ngomongin orang, akhirnya muncul dalih, “mendingan kita nggak pake jilbab dan jga nggak suka ngerumpi”. Idiih si neng, berbuat dosa koq bangga!
Jadi ketika kamu cewek yang rela tidak berbikini ria layaknya kontestan puteri kecantikan tapi malah enjoy dengan jilbab, pastikan bahwa nilai islam itu juga mampu memenuhi pikiran dan perilaku. Soalnya, malu dong kalo ternyata kamu berjilbab Cuma untuk jual tampang doank. Apalagi islam tak sampai menyentuh sikap dan perilaku kamu. bahaya bin gawat. Bukan apa-apa, nanti jika kamu terjebak dalam pergaulan bebas, misalkan. Temen-temen kamu yang masih umum berkomentar menyakitkan. Tak mustahil bila mereka memukul rata alias mengeneralisir sikap kamu itu untuk semua yang pakai jilbab. Berabe khan?? Maka, mulai sekarang isi juga tuh kepala kamu dengan tsaqofah islam. Supaya pemikiran dan perilakunya juga islami.
Hijaber koq pacaran?
“Emang kalo selain hijaber boleh pacaran?” ya tetap nggak boleh. Tapi kalau pelaku pacaran itu hijaber, sekali lagi pukulannya akan lebih keras. Dan naga-naganya, masyarakat akan mengkaitkan prilaku hijaber itu dengan islam. Makanya, hijaber yang pacaran itu mencitraburukkan islam.
Ya, ini memang berawal dari niatnya berjilbab dulu seperti yang sudah dibahas diatas. Apakah niat berjilbabnya karena ngikutin perintah Allaah dan pengen taat kepada Allaah. Sementara niat berjilbabnya akan jadi lebih mantap jika didukung dengan pemahaman islam baik tentang jilbab itu sendiri maupun tentang pemahaman islam yang lain termasuk dalam hal ini pergaulan dengan lawan jenis.
Banyak teman yang sering saya temui di forum pengajian, training ataupun sejenisnya, mereka masih menganggap pacaran itu boleh, asal aman-aman saja apalagi kalo bisa jaga diri plus kalo ternyata anak pengajian. Wacaaw!
Anak pengajian juga mansia, pasti butuh cinta. Ya, bener anak pengajian juga manusia. Punya hati, punya rasa. Juga, tentu punya rasa suka dan bisa jatuh cinta. Huhuy! Justru kalo anak manusia nggak pernah bisa merasa jatuh cinta terkategori nggak normal atau jangan-jangan bukan makhluk hidup. He..he..hee! ya iyalah kalo masih merasa manusia sih ya pasti punya rasa cinta. Hewan aja punya kok selama masih hidup. Tapi tentu manusia punya aturan dalam mengekspresikan cintanya. Ada syariat yang harus ditaati. Bedanya, kalo hewan nggak ada syariat yang harus mereka taati. Betul apa benar?
Oya sobat, untuk ngebahas tentang pacaran,kayaknya sobat muslim perlu saya kasih saran untuk ngebaca buku judunya “ Buku Hitam Pacaran”. Di buku itu gamblang banget tentang keburukan pacaran. Nah, kesempatan kali ini, saya mau fokus ngebahas tentang fenomena kaum wadon berjilbab tapi nekad pacaran. Semoga kamu yang ngebaca tulisan ini yang kebetulan kamu berjilbab plus pacaran, saya doakan semoga bebarengan dengan hidayah Allaah. Aamiin.
Saya bukan mau ngulang ngebahas pacaran dari sisi gelapnya tapi kali ini saya mau mengaitkannya dengan pacaran yang dilakukan oleh para kaum hijaber, berpeci alias kaum aktivis kerohanian islam. Sekali lagi bukan punya niatan mau menjelekkan saudara-saudari kita yang aktif di pengajian tapi mau ngingetin, kalo sampe para aktivis pengajian yang berjilbab dan menurut pemahaman masyarakat, doi ngerti tentang agama, maka akibatnya bisa berabe. Masyarakat pasti akan bilang “ tuh liat...yang ngaji aja pacaran...apalgi kita..masa’ dilarang pacaran”. Celotehan itu akan mampir ke kita dan tentu saja itu dijadikan dalih buat masyarakat untuk melegalkan pacaran. Maka dari itu, sebelum terlanjur kecebur maksiat lebih dalem, mending simak dulu penjelasan berikut ini.
Gini sobat muslim, jangan sewot bin sebel dulu, kalo islam ngelarang pacaran, sebab yang ngelarang itu bukan ustadz, kyai atau para dai tapi Allaah SWT sebagai Dzat yang Menciptakan dan Maha Mengetahui akan ciptaan-Nya (lihat Al Isra 32). Perlu kamu ketahui fren, bedakan antara pacaran dengan jatuh cinta. Kalo pacaran jelas keharamannya tapi kalo jatuh cinta jelas beda dengan pacaran karena tidak semua orang yang jatuh cinta akhirnya pacaran atau harus pacaran. Tul nggak?
Nah, yang namanya jatuh cinta bisa menghinggapi siapa saja termasuk para hijaber, aktivis dan sejenisnya. Nggak percaya ya, kalo jatuh cinta bisa juga menghinggapi para aktivis rohis? Aktivis khan juga manusia, pasti donk kejatuhan tangga...eee..hh...maksudnya cinta. Ya, karena emang manusia punya naluri untuk mencintai dan dicintai : “ dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak...” (QS. Ali Imraan : 14).
Sehingga jatuh cinta dalam pandangan islam nggak ada yang ngelarang alias boleh-boleh aja. Cuman nanti yang jadi problem kalo orang sudah jatuh cinta, mau dibawa kemana cinta itu atau cinta kepada siapa, bagaimana mengekspresikan dan seterusnya. Itulah nanti yang jadi pangkal pembahasan. Persis analoginya seprti manusia butuh makan. Khan islam gak akan mempersoalkan kenapa manusia butuh makan? Tapi islam akan bertanya alias mengatur apa yang dimakan, gimana cara makan dan dimana mencari makan, de el el.
Sobat, karena hijaber juga manusia, pastinya juga punya rasa suka dan rasa cinta. Meskipun dalam mengekspresikannya agak sedikit beda ama anak muda ummunya. Kalo anak muda umumnya langsung kenalan, terus janjian dan jadian deh dalam ikatan bernama pacaran. Tapi kalo anak hijaber, rohis?? Untuk pacaran secara terang-terangan kayaknya jarang ada. Mungkin mereka malu. Tapi kalo yang dikamuflase dengan ‘pacaran islami’ kayaknya banyak deh. Jangan protes dulu donk. Karena ini fakta, ternyata yang ngaji tapi pacarannya minta ampun kuatnya, juga ada. Ini kasuistik, khusus berlaku yang ngajinya kurang ikhlas. Satu sisi dia pengen dapat pahala ngaji, tapi disisi lain malu donk kalau gacoannya ikut ngaji sementara dia ngorok di rumah. Malu juga donk kalo ceweknya berjilbab dan aktivis pengajian kemudian nggak bisa ngimbangi beraktivitas islami juga.
Sobat muslim, jangan heran or jangan kaget, sebab siapapun orangnya termasuk anak ngaji ataupun hijaber bisa tumbuh dalam dirinya rasa cinta, rasa sayang, juga pengen memilikibegitu ngelihat lawan jenisnya. Apalagi kalo udah ngeliat sang cewek berjilbab, seakan-akan dibenaknya udah ada pikiran “ wah pas banget dengan selera “. Pikirnya, kalo si cewek udah pake jilbab-padahal jilbab dan kerudungnya belum tentu syar’i juga-kayaknya nggak perlu susah-susah mendidik calon isteri biar sholehah nantinya.
Padahal kalo dipikir-pikir, belum tentu lho wanita yang diliriknya itu nanti mau dijadikan calon isterinya. Maksudnya, kalo mereka masih seumuran anak SMP atau SMA, apa iya mereka udah mikir tentang married? Belum tentu khan?? Bahkan, kalo imam kamu nggak kuat-kuat amat, bisa-bisa kecemplung melakoni aktivitas pacaran layaknya mereka yang masih awam dengan ajaran islam. Celaka dua blas euy!
“ trus gymana baiknya?” nah, bagus deh kalo pertanyaannya udah kayak gitu. Gini sobat ya. Cinta itu ibarat jelangkung. Datang nggak di jemput, pulang pun nggak diantar. Suka tiba-tiba aja datangnya. Udah gitu nggak mengenal status lagi. Mau do’i pelajar, guru, tokoh masyarakat, anak ngaji, hijaber, ulama dan bahkan kepala negara. Cinta bakalan tumbuh di dada mereka.
Cuman masalahnya, saat cinta mulai bersemi, jarang ada yang bisa bertahan dari godaannya yang kadang menggelapkan mata dan hati seseorang. Jangan heran donk kalo sampek ada yang nekat pacaran. Wah, aktivis pengajian kok pacaran? Wah, hijaber kok pacaran? Malu atuh !
Bukan hanya malu tapi juga dosa. Bukan berarti dosanya lebih gede atau bertingkat karena yang ngelakuin anak pengajian alias hijaber. Bukan, cuman aja bisa ngerusak predikat tuh. Bener. Sebab, serangan kepada orang yang dianggap tahu dan paham agama lebih kenceng. Jadi kalo ada aktivis pengajian (anak rohis) atau hijaber yang pacaran, orang disekeliling mereka dengan sengit mengolok-olok, mencemooh bahkan mencibir sinis. Kejam juga ya? Masyarakat pasti ngedumel “ uuhh....anak pengajian kok pacaran.” Apalagi kalo sampe MBA alis married by accident. Uuhh...nau’udzubillah min dzalik.
Nah, kalau udah tahu jatuh cinta itu wajar, maka yang diperlukan sekarang adalah kita harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan lawan jenis. Karena potensi jatuh cinta yang salah di kalangan muda-mudi adalah ketika pergaulan atau interaksi lawan jenis tidak terkontrol dengan baik dan benar sesuai syari’at islam.
Berhijab tapi kok pacaran?
itu pertanyaannya sama kayak 'muslim kok gapake kerudung / muslim kok
pakaiannya ga sesuai syariat islam?' lah, namanya masih belajar ya. lagi proses
masih banyak salahnya, masih sering tergoda. tapi ya namanya proses belajar,
insya Allah menuju ke yang baik-baik. lebih baik lagi belajar ada salahnya jadi
tau mana yang harus diperbaiki daripada enggak salah sama sekali terus
sekalinya salah malah jadi salah terus *opini saya sih*. yaa doain ajaah non,
besok-besok ga pacaran, langsung seret aja ke KUA J J J
semoga bermanfaat



Tidak ada komentar:
Posting Komentar